Minggu, 30 November 2014
makalah TBC
Makalah TBC
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Micobacterium tuberculosis (TB) telah menginfeksi sepertiga penduduk dunia, menurut WHO sekitar 8 juta penduduk dunia diserang TB dengan kematian 3 juta orang per tahun (WHO, 1993). Diperkirakan 95% penderita TB berada di negara-negara berkembang Dengan munculnya epidemi HIV/AIDS di dunia jumlah penderita TB akan meningkat.
Kematian wanita karena TB lebih banyakdari pada kematian karena kehamilan, persalinan serta nifas (WHO). WHO mencanangkan keadaan darurat global untuk penyakit TB pada tahun 1993 karena diperkirakan sepertiga penduduk dunia telah terinfeksi.
Di Indonesia TB kembali muncul sebagai penyebab kematian utama setelah penyakit jantung dan saluran pernafasan. Penyakit TB paru, masih menjadi masalah kesehatan masyarakat. Hasil survey kesehatan rumah tangga (SKRT) tahun 1995 menunjukkan bahwa tuberkulosis merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernapasan pada semua golongan usia dan nomor Idari golongan infeksi. Antara tahun 1979 - 1982 telah dilakukan survey prevalensi di 15 propinsi dengan hasil 200-400 penderita tiap 100.000 penduduk.
Diperkirakan setiap tahun 450.000 kasus baru TB dimana sekitar 1/3 penderita terdapat disekitar puskesmas, 1/3 ditemukan di pelayanan rumah sakit/klinik pemerintahd an swasta, praktek swasta dan sisanya belum terjangku unit pelayanan kesehatan. Sedangkan kematian karena TB diperkirakan 175.000 per tahun.
Penyakit TB menyerang sebagian besar kelompok usia kerja produktif, penderita TB kebanyakan dari kelompok sosio ekonomi rendah. Dari 1995-1998, cakupan penderita TB Paru dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse Chemotherapy) -atau pengawasan langsung menelan obat jangka pendek/setiap hari- baru mencapai 36% dengan angka kesembuhan 87%.
Sebelum strategi DOTS (1969-1994) cakupannya sebesar 56% dengan angka kesembuhan yang dapat dicapai hanya 40-60%. Karena pengobatan yang tidak teratur dan kombinasiobat yang tidak cukup dimasa lalu kemungkinan telah timbul kekebalan kuman TB terhadap OAT (obat anti tuberkulosis) secara meluas atau multi drug resistance (MDR).
1.2 Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas perkuliahan mata kuliah keperawatan anak 2 dan menambah ilmu pengetahuan tentang rencana asuhan keperawatan TB Paru pada anak bagi para penulis dan pembaca.
1.3 Tujuan Khusus
Untuk mengetahui karakteristik TB Paru, defenisi, etiologi, patofisiologi, manifestasi klinis dan asuhan keperawatan pada TB Paru
1.4 Manfaat
Adapun manfaat makalah ini Kelompok ingin memberikan suatu gambaran ataupun penjelasan yang lebih mendalam mengenai manajemen asuhan keperawatan yang berhubungan dengan TB Paru.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Defenisi TB Paru
TB Paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium tuberculosis). Sebagian besar kuman menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lain (Dep Kes, 2003).
Proses penularan melalui udara atau langsung seperti saat batuk. Penyakit ini dikelompokkan dalam dua kelompok besar yaitu:
1. Tuberkulosis paru primer yang sering terjadi pada anak. Proses ini dapat dimulai dari proses yang disebut droplet nuklei yaitu suatu proses terinfeksinya partikel yang mengandung da atu lebih kuman tuberkulosis yang hidup dan terhirup serta diendapkan pada permukaan alveoli. Kemudian terjadi eksudasi dan dilatasi pada kapiler, keluar fibrin, magrofag ke dalam ruang alveolar.
2. Tuberkulosis pasca primer, terjadi pada klien yang sebelumnya terinfeksi oleh kuman mikobakterium tuberkulosa (A.Aziz Alimul Hidayat, 2006).
2.2 Etiologi
Jenis kuman berbentuk batang, ukuran panjang 1–4/um dan tebal 0,3 – 0,6/um. Sebagian besar kuman berupa lemak/lipid sehingga kuman tahan asam dan lebih tahan terhadap kimia, fisik. Sifat lain dari kuman ini adalah aerob yang menyukai daerah yang banyak oksigen, dalam hal ini lebih menyenangi daerah yang tinggi kandungan oksigennya yaitu daerah apikal paru, daerah ini yang menjadi prediklesi pada penyakit tuberculosis (Mycobacterium tuberculosis).
Faktor-faktor penyebab Mycobacterium Tuberculosis.
1. Herediter: resistensi seseorang terhadap infeksi kemungkian diturunkan secara genetik.
2. Jenis kelamin: pada akhir masa kanak-kanak dan remaja, angka kematian dan kesakitan lebih banyak terjadi pada anak perempuan.
3. Usia: pada masa bayi kemungkinan terinfeksi sangat tinggi.
4. Pada masa puber dan remaja dimana masa pertumbuhan yang cepat, kemungkinan infeksi cukup tinggi karena diit yang tidak adekuat.
5. Keadaan stress: situasi yang penuh stress , kurang nutrisi, stress emosional, kelelahan yang kronik.
2.3 Patofisiologi
Melalui udara, Infeksi
2.4 Manifestasi Klinis
Gejala Umum :
- Batuk terus menerus dan berdahak selama3 minggu atau lebih.
Gejala lain yang sering dijumpai :
- Dahak bercampur darah
- Batuk darah
- Sesak nafas dan rasa nyeri dada
- Badan lemah, nafsu makan menurun, berat badan menurun, rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan, demam meriang lebih dari satu bulan.
2.5 Pemeriksaan Diagnostik
- Kultur sputum : + Mycobacterium Tuberculosis
- Foto thorak
2.6 Pemeriksaan Klinis
- Konjungtiva mata atau kulit yang pucat karena anemia, suhu demam (subfebris), badan kurus atau berat badan menurun.
2.7 Penatalaksanaan
- Farmakoterapi
- Tambahan oksigen
- Fisioterapi dada
II. TINJAUAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian :
1. Aktifitas/istirahat
Kelelahan : Tachicardia
Nafas pendek : Tachipnea
Sulit tidur pada malam hari : Kelelahan otot, nyeri dan sesak.
2. Integritas Ego
Faktor stress : Menyangkal
Masalah keuangan : Ansietas
Perasaan tak berdaya.
3. Makanan/Cairan
Anoreksia
Tidak dapat mencerna makanan
Penurunan berat badan
4. Nyeri/kenyamanan
Nyeri dada meningkat : Gelisah, prilaku distraksi
5. Pernapasan
Batuk : Peningkatan frekuensi pernafasan
Nafas pendek : Bunyi nafas menurun.
Riwayat TB : Karakteristik sputum : Hijau atau bercak darah
6. Interaksi sosial
Perasaan isolasi
Perubahan perasaan peran
7. Penyuluhan
Riwayat keluarga TB
Status kesehatan buruk
Gagal untuk membaik/kambuhnya TB
Tidak berpartisipasi dalam therapy
B. Diagnosa Keperawatan
1. Tidak efektif jalan nafas berhubungan dengan peningkatan produksi sekret dan sekresi kental ditandai dengan batuk dengan mengeluarkan sputum.
2. Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen ditandai dengan dispnea.
3. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan BB menurun.
4. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh ditandai dengan nyeri.
5. Kurang pengetahuan mengenai kondisi tindakan berhubungan dengan kurang informasi/ tidak mengenal informasi ditandai denagan pertanyaan tentang informasi penyakitnya.
C. Intervensi
Diagnosa 1 : Kebersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret dan sekresi kental ditandai dengan mengeluarkan sputum.
- Catat adanya bunyi nafas.
- Kaji / pantau frekuensi pernafasan ,cacat inspirasi /ekspirasi
- Catat adanya derajat dispnea ,misal: keluhan lapar,ansietas dan gelisah
- Dorong /bantu latihan nafas abdomen atau bibir
- Kaji pasien untuk posisi yang nyaman misal: peninggian kepala tempat tidur
Diagnosa 2 : Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan suplai oksigen ditandai dengan dispnea.
- Kaji frekuensi pernapasan
- Tinggikan kepala tempat tidur,bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas.
- Dorong mengeluarkan sputum,pengisapan bila di indikasikan.
- Catat adanya bunyi nafas
- Awasi tingkat kesadaran/status mental
Diagnosa 3 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia ditandai dengan BB menurun.
- Kaji kebiasan diet,masukan saat ini
- Auskultasi bunyi usus
- Berikan perawatan oral,sering buang secret.
- Hindari makan sangat panas /sangat dingin.
- Hindari makanan penghasil gas
- Timbang berat badan sesuai indikasi
Diagnosa 4 : Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan tubuh ditandai dengan nyeri.
- Awasi suhu,kaji pentingnya latihan nafas,batuk efektif,perubahan posisi sering dan masukkan cairan adekuat.
- Observasi warna,karakter dan sputum.
- Tunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan tisu dan sputum.
- Dorong antara aktivaitas dan istirahat.
- Diskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.
Diagnosa 5 : Kurang pengetahuan mengenai kondisi tindakan berhubungan dengan kurang informasi/ tidak mengenal informasi ditandai dengan pertanyaan tentang informasi penyakitnya.
- Jelaskan proses penyakit individu.
- Instruksikan latihan nafas.
- Diskusikan obat pernafasan, efek samping dan reaksi yang tak diinginkan.
- Kaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien yang kurang oksigen.
D. Implementasi
Diagnosa 1 :
- Mencatat adanya bunyi nafas,
- Mengkaji / pantau frekuensi pernafasan ,cacat inspirasi /ekspirasi
- Mencatat adanya derajat dispnea ,misalnya :keluhan lapar,ansietas dan gelisah
- Mendorong /bantu latihan nafas abdomen atau bibir
- Mengkaji pasien untuk posisi yang nyaman misal: peninggian kepala tempat tidur.
Diagnosa 2 :
- Mengkaji frekuensi pernapasan
- Meninggikan kepala tempat tidur,bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas.
- Mendorong mengeluarkan sputum,pengisapan bila di indikasikan.
- Mencatat adanya bunyi nafas
- Mengawasi tingkat kesadaran/status mental
Diagnosa 3 :
- Mengkaji kebiasan diet,masukan saat ini
- Auskultasi bunyi usus
- Memberikan perawatan oral,sering buang secret.
- Menghindari makan sangat panas /sangat dingin.
- Menghindari makanan penghasil gas
- Menimbang berat badan sesuai indikasi
Diagnosa 4 :
- Mengawasi suhu,kaji pentingnya latihan nafas,batuk efektif,perubahan posisi sering dan masukkan cairan adekuat.
- Mengobservasi warna,karakter dan sputum.
- Menunjukkan dan bantu pasien tentang pembuangan tisu dan sputum.
- Mendorong antara aktivaitas dan istirahat.
- Mendiskusikan kebutuhan masukan nutrisi adekuat.
Diagnosa 5 :
- Menjelaskan proses penyakit individu.
- Menginstruksikan latihan nafas.
- Mendiskusikan obat pernafasan, efek samping dan reaksi yang tak diinginkan.
- Mengkaji kebutuhan / dosis oksigen untuk pasien yang kurang oksigen.
E. Evaluasi
- Mempertahankan jalan nafas pasien dengan bunyi nafas bersih/jelas.
- Menunjukkan perilaku untuk memperbaiki kebersihan jalan nafas.
- Menunjukkan perbaikan ventilasi dan oksigenisasi jaringan adakuat dengan GDA dalam rentang normal.
- Berpartipasi dalam program dalam tingkat kemampuan/situasi
- Menyatakan pemahaman penyebab / resiko individu
- Mengidentifikasi intervensi untuk mencengah /untuk menurunkan resiko infeksi
jenis sendi pada manusia
Jenis Sendi di Tubuh Manusia
Sendi dapat diklasifikasikan sesuai dengan berbagai basis seperti jenis gerakan disampaikan, fungsi, struktur, dll. Mari kita lihat berbagai jenis sendi dan klasifikasi yang berbeda.
Jenis-jenis Sendi
Klasifikasi Menurut Gerakan disampaikan
Sendi Peluru (bahu dan pinggul)
Sendi engsel (lutut dan ulna dari siku)
Sendi elipsoidea (rahang dan jari)
Sendi Luncur (tulang belakang, pergelangan tangan dan pergelangan kaki)
Sendi Poros (leher dan jari-jari siku)
Sendi pelana (jempol)
Klasifikasi Menurut Struktur
Sendi fibrosa (jahitan, syndesmoses dan gomphosis)
Sendi kartilaginosa (synchondroses dan symphyses)
Sendi sinovial (carpals pergelangan tangan, sendi akromioklavikularis, area siku antara humerus dan ulna, atlanto-aksial bersama, proksimal radio-ulnaris, distal radio-ulnaris, pergelangan tangan, ibu jari carpometacarpal bersama, Glenohumeral sendi bahu, sendi panggul, sendi sternoklavikularis, sendi lutut).
Klasifikasi Menurut Fungsi
Synarthrosis (memungkinkan mobilitas sangat terbatas atau tidak ada seperti gomphosis, synostoses dan synchondrosis,. Kebanyakan berserat sendi)
Amphiarthrosis (Memungkinkan mobilitas agak terbatas seperti simfisis, syndesmosis dan membran interoseus, kebanyakan tulang rawan sendi)
Diarthrosis (memungkinkan berbagai gerakan dan semua sendi sinovial datang di bawah klasifikasi ini)
Klasifikasi Menurut Anatomi Lokasi
Sendi artikulasi Tangan
Sendi pergelangan
Sendi siku
Sendi Bahu aksila (Glenohumeral dan sendi akromioklavikularis)
Sendi sternoklavikularis
Sendi artikulatoris vertebra
Sendi Sakroiliaka panggul
Sendi temporomandibular rahang
Sendi artikulasi Kaki
Sendi pinggul
Sendi lutut
Secara anatomis klasifikasi sendi dapat lebih sub-diklasifikasikan dalam sederhana, sendi senyawa dan rumit, berdasarkan jumlah tulang yang terlibat dalam setiap sendi dan sifat biomekanis masing-masing. Misalnya, tulang kecil yang terlibat, semakin sederhana sendi dan tulang lebih terlibat menjadi, semakin kompleks. Memahami lebih lanjut tentang sendi memungkinkan kita untuk sepenuhnya menghargai sistem muskuloskeletal dan tubuh secara keseluruhan.
Gangguan Kelainan pada sendi
Dalam tubuh manusia, ada lebih dari 230 semi-bergerak dan sendi bergerak. Osteoarthritis adalah kelainan sendi yang paling umum. Hal ini ditandai dengan sendi yang terkena menjadi sulit untuk bergerak, bengkak dan hangat. Setiap sendi dapat terpengaruh oleh gangguan ini.
Kelainan sendi temporomandibular, atau TMJ, adalah kondisi sendi lain yang relatif umum. Ini mempengaruhi rahang dan dapat disebabkan oleh sejumlah faktor, seperti kuku kebiasaan menggigit atau mengunyah permen karet, trauma pada rahang, tugas pekerjaan tertentu, gigi menggiling, masalah gigi tertentu dan stres.
Sebuah dislokasi sendi ditandai oleh dua tulang memisahkan di mana mereka bertemu di sendi. Dislokasi juga dapat menyebabkan kerusakan saraf, ligamen dan pembuluh darah karena tidak lagi berada di posisi normal. Dislokasi adalah keadaan darurat medis. Trauma adalah penyebab khas dislokasi, seperti jatuh, pukulan atau bentuk lainnya trauma. Dampak tiba-tiba sendi dapat menyebabkan cedera ini.
Itu adalah pertemuan singkat dengan hampir semua jenis sendi dalam tubuh manusia. Salah satu penyakit yang paling terkenal dan menyakitkan untuk menyerang sendi merupakan arthritis. Hal ini sebagian besar menyerang sendi di usia tua tapi hari ini, banyak orang muda juga jatuh korban penderitaan ini karena postur yang tidak sehat dan gaya hidup. Kebiasaan buruk seperti retak sendi juga dapat menyebabkan nyeri sendi dan pembengkakan sendi. Diet sehat yang baik dan terang, olahraga teratur dapat pergi jauh dalam memberikan Anda kesehatan sendi dan menjaga kondisi seperti kaku sendi, sakit sendi, dll di teluk dengan baik sampai usia matang. Oleh karena itu, tetap aktif untuk sendi yang lincah!
Selasa, 25 November 2014
PENYAKIT BARU AKIBAT PEMANASAN GLOBAL
PENYAKIT BARU AKIBAT PEMANASAN GLOBAL
Dalam akhir-akhir ini berbagai macam
penyakit begitu banyak sekali, untuk itu berdasarkan Data Organisasi
Kesehatan dunia (WHO) sebanyak 30 penyakit baru yang muncul sepanjang
tahun 1976-2008 akibat perubahan iklim dan pemanasan global. Staf Khusus
Menteri Lingkungan Hidup, Amanda Katil Niode mengatakan munculnya
penyakit ini karena temperatur suhu panas bumi yang terus meningkat.
“Yang paling jelas kelihatan penyakit
demam berdarah, kolera, diare, disusul virus ebola yang sangat
mematikan,” katanya di sela-sela penganugerahan Raksaniyata 2008 di
Jakarta, Jumat (14/11). Menurut dia, masalah kesehatan akibat pemanasan
global memang sangat dirasakan parahnya oleh negara-negara berkembang
yang sebagian masih miskin karena minimnya dana sehingga tak mampu lagi
melaksanakan berbagai program persiapan dan tanggap darurat.
Untuk mengatasi dampak buruk perubahan
iklim terhadap kesehatan manusia itu, tidak bisa dilakukan sendiri oleh
masing-masing negara. Upaya itu baru akan berhasil jika dilakukan
melalui kerja sama global, seperti misalnya meningkatkan pengawasan dan
pengendalian penyakit-penyakit infeksi, memastikan penggunaan air tanah
yang kian surut, dan mengkoordinasikan tindakan kesehatan darurat.
“Itu semua penting dilakukan, karena
perubahan iklim jelas-jelas akibat dari kegiatan manusia yang tak peduli
terhadap keseimbangan alam, yang kemudian berimplikasi serius terhadap
kesehatan publik,” ujarnya.
Selain menyebabkan gangguan kesehatan,
perubahan iklim juga mengakibatkan berbagai bencana alam yang sangat
besar. Sepanjang tahun 2006 telah terjadi 390 bencana besar di dunia
yang banyak menelan korban.
“Amerika Serikat paling banyak terjadi
bencana dibanding negara-negara lain, tetapi untuk jumlah korban paling
banyak saat tsunami terjadi di Aceh pada 2004 lalu,” jelasnya.
Di Indonesia sendiri, kata dia, bencana
alam banyak terjadi akibat kesadaran masyarakat yang lemah, seperti
pembalakan liar, kebakaran hutan, dan pembuangan karbon dioksida (CO2).
Agar bencana alam dapat diminimalisir diperlukan sinkronisasi antara
pemerintah, dunia usaha dan individu.
Langganan:
Postingan (Atom)
